IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia

Kampung Kreatif Dago Pojok, Inspirasi Kreativitas dan Pendidikan bagi Indonesia

Salah satu tempat belajarku dan kawan-kawan lain sebagai peserta Anti-Corruption Youth Camp
Kang Rahmat saat Menyambut Peserta ACYC 2017
dan memberikan materi terkait
kampung kreatif
2017 di Bandung adalah Kampung Kreatif Dago Pojok, sebuah kampung kota yang disulap dari awalnya biasa-biasa saja menjadi kampung yang mendunia. Kok bisa mendunia? Inilah goresan-goresannya.

Adalah seorang kelahiran Bandung, dengan nama Rahmat Jabaril, berinisiatif untuk membangun sebuah kampung kota kumuh menjadi lirikan mancanegara. Prosesnya juga tak semudah membalikkan tangan. Tekad kuatnya mengarahkan untuk datang ke sebuah kampung bernama Kampung Dago Pojok dengan harapan mampu melakukan perubahan sosial pada masyarakat kampung kota tersebut. Berbekal teori-teori sosial, pendidikan serta advokasi masyarakat, ia mampu memelopori terbentuknya Kampung Kreatif Dago Pojok. Kreativitas masyarakat yang terpendam dapat terangkat ke permukaan serta dikembangkan.

Tak sedikit usaha-usaha keras yang dilalui seperti harus bolak-balik Surabaya-Bandung, pengeluaran finansial hingga berpuluh-puluh juta, menyatukan pandangan dengan masyarakat dan masih banyak lagi. baginya, banyaknya pengeluaran bukanlah suatu masalah karena tujuannya adalah menjadikan masyarakat semakin terberdayakan serta kreatif. Perlahan mulai tumbuh kreativitas seni masyarakat seperti wayang golek, seni pahat, sablon kaos, batik serta masih banyak lagi hingga penyediaan panggung guna menampilkan kesenian pun digarap.

Keberhasilan Kang Rahmat (sebutan akrab untuk Rahmat Jabaril) dalam memberikan pendidikan kreatif kepada masyarakat benar-benar membuahkan hasil. Tak heran jika Kampung Dago Pojok jadi tujuan wisata mancanegara bahkan tempat belajar. Para turis tak segan untuk tinggal lama di sana. Semangat mendidik kreativitas tersebut ia coba tularkan pada masyarakat di samping sudah terberdayakan sehingga membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapapun untuk belajar kesenian tanpa dipungut biaya, khususnya bagi generasi muda.

Kang Rahmat bersama dengan masyarakat menghiasi tiap sudut Kampung Dago Pojok dengan nuansa kesenian seperti lukisan-lukisan bahkan sempat membuat mural yang kini telah ditutup. Walaupun sebenarnya baru 3 dari 6 RT yang tergarap, namun proses tetap berlanjut. Perencanaan semenjak 2009 hingga launching pada 2011 harus tetap berlanjut hingga masyarakat mampu berdiri tegak.

Ada beberapa pelajaran dari sini, yaitu :

1. Masyarakat kampung kota sangat berbeda dengan masyarakat desa. Masyarakat kampung kota sangat dinamik karena apa yang terjadi hari ini bisa berubah bahkan berbanding terbalik dengan esok hari, bahkan sangat cepat. Sedangkan masyarakat desa masih memiliki nafas kesamaan atau homogenitas sehingga dalam hal memberdayaan masyarakat kampung kota, pendampingannya harus masif pun juga tak putus. Kalau perlu memang tinggal di sana;

2. Pendidikan adalah membuat seseorang menjadi "kreatif". Keresahan Kang Rahmat adalah para sarjana kita terkesan kurang kreatif, dibarengi pula dengan sistem pendidikan yang kaku, maka wajar jika lulusan sarjana lebih cenderung terpaku pada kepegawaian;

3. Pendekatan pada masyarakat harus dengan pendekatan mendalam serta intens. Karena untuk bisa merubah suatu masyarakat harus tahu terlebih dahulu bagaimana karakeristiknya atau bisa juga disebut pemetaan pada masyarakat. Dalam hal ini, Kang Rahmat melakukannya selama bertahun-tahun;

4. Ada celah pada masyarakat yang jarang tersentuh, yaitu mengenai ruang waktu tak berbatas. Untuk bisa menyentuhnya jug abutuh advokasi serta pendampingan intens. Ruang waktu tak berbatas ini berarti sisi imajinasi atau kehidupan lain selain kehidupan formal. Setiap masyarakat punya makna khusus yang harus ditemukan sehingga ketika berhasil ditemukan barulah sangat mudah untuk merubah masyarakat;

5. Berseni adalah bentuk rasa syukur;

6. Segala sesuatu memiliki narasinya sendiri.

Dan masih banyak lagi.

Benefit dari kampung kreatif ini adalah peningkatan warga dari sisi ekonomi karena masyarakat semakin belajar memahami bagaimana psikologi pasar. Bukan hanya pasar regional atau nasional, tapi global! Secara tak langsung kolektivitas masyarakat terbina perlahan. Mereka juga memikirkan bagaimana menjaga kondisi mereka agar tetap menjadi sorotan dunia. Berkaitan dengan itu, masyarakat pada akhirnya semakin sadar wisata. Wajar saja jika orang-orang luar negeri banyak melirik kampung kreatif dago pojok. Kelompok-kelompok sosial kian bertumbuh dan solidaritas semakin terbangun. Semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.





Komentar