IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia

PACARAN, MENIKAH : Sebuah Kebanggaan?

Penegasan: Tulisan ini ditulis dengan pola pikir subjektif penulis. Bisa jadi bener, bisa juga nggak bener. Awas ketawa kalau baca!

Ah! Aku ini bukan ahli soal pernikahan. Ngusahain buat nikah aja masih cupu dan nggak jadi. Entah caranya yang salah atau orang-orang di sekitar yang kurang menyetujui, sehingga rasanya sulit banget buat ngelangkah ke jenjang yang serius. Hahaha, sudahlah jih.. jih. Masih diratapin aja. Kayak si dia meratapimu aja, kayak orang-orang lain juga ikut meratapimu aja. Naif!

Di tulisan ini, aku coba berpendapat sebisaku. Karena kecupuanku soal pernikahan, apalagi menghadapi realita di mana tiap minggunya pasti ada teman-temanku yang menikah, atau udah pada mau serius nikahin si doi, juga si dia (si masa laluku) yang juga akan segera dinikahi oleh lelaki yang dicintainya, akhirnya muncul semacam kabut kegelapan dalam pikiranku yang menghasilkan pandangan-pandangan buruk pada sebagian orang yang akan menikah atau bahkan yang masih pacar-pacaran. Aku mulai sinis dan curiga pada mereka.

Tak segan-segan pikiranku banyak memberikan kritikan pada mereka yang akan atau baru menikah mengenai kesiapan mereka secara jasmani maupun rohani, apalagi buat pasangan burung-burung yang lagi kasmaran dengan status pacaran berbumbu cinta omong kosong juga dalih-dalih cinta mereka yang melebihi sabda nabi. Mereka belum ngerasain kayaknya konsekuensi dari hubungan yang serius. Yakin aku kalau mereka banyak main-mainnya.Yang penting bahagia.

Memangnya bahagia sesederhana itu? Hidup yang bahagia itu semudah kamu jatuh cinta dan menjalani hidup penuh CINTA itu dengan pacarmu? Cintamu itu cinta main-main nggak sih? Huft! Makin kutulis, makin jengkel aku! Suer aku nulis ini sambil emosi! Sebenarnya, aku sangat hormat kepada kawan-kawanku yang mengusahakan untuk menyeriusi seseorang tapi tanpa acara cinta-cintaan alay gitu. Mereka ikhlas kalau yang diikhtiari itu bukan jodoh mereka. Keren kan? Ini sebenarnya tamparan juga sih untukku.

Mungkin pikiran sinis nan gila dalam otakku ini nggak beralasan karena bisa jadi kemunculannya atas dasar emosi dalam diriku saja yang tak tahu diri karena dulu kalau pacaran juga alay buanget. Cuma, nggak ada salahnya juga kusampaikan karena mungkin bisa menjadi bahan introspeksi diri buat kamu yang lagi baca ini, atau untuk diriku sendiri.

Pacaran


Nih! Sejak SD, aku udah tahu bahasa pacaran dari teman-teman SD ku. Pacaran berarti seorang laki-laki suka dengan seorang perempuan, atau sebaliknya, dan mereka sama sama menyatakan cinta, lalu menjalani hidup bersama (waktu SD, mahaminnya masih terbatas yang penting saling suka dan gandengan tangan. Cuih! Kok ya jijik aku ngingetnya).

Makin remaja, makin kupahami kalau menyatakan aku cinta kamu itu bagaikan berada di surga loh. Nge-fly cuy rasanya! Asyik buanget! Berdebar-debar nih jantung! Suka senyum-senyum sendiri. Pertama kalinya aku bilang cinta ke perempuan adalah ketika kelas 1 SMA (kelas 4 di pondok), kondisi masih liburan pondok dan ada di Malang. Namanya jarang ketemu perempuan cantik, sekali ketemu, langsung nggak bisa dikontrol juga nih hati. Bablas dah! Kami pacaran dan seminggu kemudian putus karena ketahuan Ayah Ibuku. Hahaha!

Semakin bertambah umur, semakin penasaran aku dengan pacaran karena yang dulu cuma seminggu. Hahaha! Kemudian, masuklah aku dalam sebuah hubungan pacaran konyol yang saling mengatakan cinta tapi tak pernah bertatap muka. Hanya lewat facebook! 4 bulan kemudian baru ketahuan kalau dia palsu, aslinya nggak seperti di foto profilnya. Kukandasin sekalian!

Terakhir kali, ini yang hampir ke serius, tapi nggak jadi. Sekali lagi memang cupu aku ini. Urusan cinta nggak becus sama sekali. Lama loh, 2 tahun lebih aku jalan sama yang terakhir ini. Semenjak dia sudah sama orang lain, aku jadi kapok pacaran. Ternyata, setelah menjalin hubungan dalam jangka waktu lama, kemudian tidak serius, itu nusuk rasanya. Salahku yang nggak siap dan mungkin karena cupu serta kurang dewasa itu. Di akhir kali aku pacaran ini, aku benar-benar merasakan bahwa dunia ini memang milikku dan miliknya. Kami hadapi segala permasalahan, berusaha memahami dan melengkapi. Banyak banget momen-momen langkaku dihiasi dengan tingkah laku kami berdua yang penuh suka cita, kadang kekanak-kanakan, menangis dan tertawa. Banyak dah! Walau sekarang tinggal kenangan.

Selamat! Kamu yang lagi baca ini, telah mendapatkan bonus cerita masa kelamku. Nggak banyak lho orang yang mau nyeritain kayak ginian! Aku cuma mau nunjukin, kalau pacaran itu manis di awal, runyam di pertengahan, sakit di akhir. Karena masih membawa ego masing-masing. Kalau udah nikah, mau bawa-bawa ego masing-masing? Hm! Berantakan rumah tanggamu! Kasihan keluarga dan anak-anakmu!

Di pacaran, yang dipertemukan adalah realitas bahwa si cowok dan si cewek punya kehidupan, latar belakang dan cita-cita yang berbeda, kemudian berusaha disatuin dengan segala cara, pake drama-drama segala. Belum lagi kalau orang tua nggak suka. Wuih, mampus aja. Dikira gampang apa bikin orang tua setuju? Kalau udah nikah, kamu nggak hanya jadi suami atau istri, kamu juga jadi orang tua, punya anak, berusaha mencari nafkah, mendidik anak-anakmu, menyatukan dua keluarga yang berbeda latar belakang, dan ini adalah jenjang serius.

Pacaran itu main-main belaka! Karena belum tentu pasanganmu kelak akan mau mendampingimu sampai akhir hayat sebagai pendamping hidupmu yang sah. Bagaimana tidak? Kalau dia mau mendmapingimu sampai akhir hayat, sesegera mungkin dia akan menikahimu! Atau, kalau memang keadaannya masih belum memungkinkan untuk menikah, dia akan memilih tidak memacarimu dan menjaga perasaannya untukmu. Kalau mau ya kamu juga perasaanmu untuknya, sampai waktunya tiba. Kuat nggak? Namanya juga manusia, mana kuat?

Bagaimana? Udah emosi bacanya?

Bersambung...
Lanjutannya ada di sini https://www.rajihbersenandung.com/2018/12/pacaran-menikah-sebuah-kebanggaan_25.html

Komentar

  1. Malam2 insomnia. Ada link di story wa. Aku klik. Dan read read read. Trus ketawa2.. hahaha alhamdulillah ya kan bisa ketawa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaa alhamdulillah.. Bersyukur bisa ngehibur mbak di saat insomnia😂

      Hapus

Posting Komentar

Komentarin ya! Saya seneng banget kalau dikomentarin. Terima Kasih :)